Dari geram sampai muram, itulah perasaan yang dihadapi penduduk Jakarta ketika harus berhadapan dengan macet. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa dari pagi sampai malam, banyak titik ibukota padat oleh kendaraan pribadi seperti mobil dan motor. Ironisnya, pemandangan jalanan saat jam makan siang pun sama saja, karena banyak yang memilih menggunakan mobil hanya untuk menyebrang ke mall.
Apa dong yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kemacetan secara perlahan? Mulai dari mengubah frekuensi penggunaan kendaraan pribadi dalam seminggu, lebih memilih menggunakan Transjakarta, atau mungkin, mulai berjalan kaki?
Jalan kaki? Ya! Urbanesian bisa loh mengganti aktivitas sehari-hari yang menggunakan kendaraan pribadi dengan jalan kaki. Misalnya, lebih baik memilih jalan kaki untuk mencari makan siang dibanding harus menggunakan mobil atau motor. Jalan kaki setelah makan siang akan menghindari kita dari rasa kantuk dan kekenyangan.
Selain saat weekdays, Urbanesian juga bisa mengurangi kemacetan saat weekend dengan jalan kaki. Misalnya, weekend ini, Urbanesian berencana untuk wisata kuliner. Contoh rutenya, Urbanesian bisa naik Transjakarta sampai halte Sarinah Thamrin, lalu berjalan kaki sampai Sabang. Di jalan Sabang, kita bisa puas menikmati makanan seperti The Baked Goods, Kopi Tiam Oey,sampai Sabang 16. Nah, bagi yang sering ke daerah Gading, Kemang dan Tebet yang terkenal macet, lebih baik parkir mobil di satu tempat lalu berjalanlah ke tempat tujuan dari tempat parkir yang lebih dekat tersebut.
Bagi yang stres dengan jalanan saat midnite sale, bisa juga mulai dari Senayan City dan Plaza Senayan, lalu naik Transjakarta sampai Bundaran HI, dan menyebrang ke Plaza Indonesia, e’X dan Grand Indonesia.
"Jalan Kaki Jakarta"
Bicara soal jalan kaki, belum lama ini muncul sebuah gerakan bernama Jalan Kaki Jakarta. Gerakan ini diprakarsai oleh Marco Kusumawijaya, penggagas RUang JAKarta (RUJAK), dan beberapa rekannya yang prihatin akan kondisi pejalan kaki di Jakarta. Melalui akun Twitter, mereka pun mengajak para follower untuk berbagi cerita dan foto mengenai nasib pejalan kaki.
Banyak ide yang bisa membantu masyarakat agar mau berjalan kaki. Jalan Kaki Jakarta juga pernah berbagi ide sederhana yang menarik. Pejalan kaki bisa berfoto dengan latar belakang jalan yang dia lalui. Setiap 500 meter, Anda harus berfoto dan menceritakan perjalanan. Sesampai di mall, café, ataupun toko yang bekerjasama dengan Jalan Kaki Jakarta, Anda bisa mendapat diskon 10% atau jenis insentif lainnya. Saat ini, Jalan Kaki Jakarta sedang mencari toko, café, dan mall yang tertarik untuk bekerjasama. Bukan hanya aksi lewat internet, gerakan ini juga pernah mengadakan sharing di Taman Suropati dan mengadakan lomba tweetpic Pejalan Kaki di Tahun Baru 2012. Bila Urbanesian punya ide menarik, sangat dipersilahkan loh untuk mengusulkan. Silahkan kirim ide tersebut lewat email: atau sampaikan melalui twitter @JalanKaki.

Beberapa dari Urbanesian mungkin berpikir, buat apa jalan kaki kalau trotoar pun sudah dijajah oleh motor. Nah, Jalan Kaki Jakarta berencana membuat kegiatan Trotoar Kita. Kegiatan ini diawali dari kegemasan para pejalan kaki yang trotoarnya kerap 'dijajah' oleh para pengendara motor yang seenaknya naik ke trotoar untuk menghindari macet. Bila Urbanesia tertarik untuk ikut serta dalam kegiatan ini, bisa menghadiri Rapat Koordinasi  Kampanye pada tanggal 4 Februrari 2011 mulai jam 09.00-12.00 di kantor Rujak Center for Urban Studies. Klik disini untuk mendaftar. Rencana awal kegiatan adalah membagikan flyer berisikan Undang Undang no.22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas kepada pengendara motor. Pembagian flyer akan dibagi di empat titik Jakarta sebagai percobaan.
Semakin banyak tempat di Jakarta yang nyaman untuk dipakai berjalan kaki, pastinya akan semakin banyak orang yang tertarik untuk ikut berjalan. Selain bisa mengurangi keluhan yang sudah basi tentang macet di Jakarta, pastinya jalan kaki bisa menyehatkan.
Yuk, ikutan gerakan Jalan Kaki Jakarta!
Near
Back to Top